Kehangatan di Balik Kepedihan


Kehangatan di Balik Kepedihan 



   Saya adalah manusia berjenis Homo shimu. Shimu merupakan jenis manusia selain Homo sapiens yang memiliki beberapa ciri fisik yang berbeda dari Homo sapiens. Mereka menganggap kami sebagai sosok monster atau apalah itu yang manusia itu bilang. Kebanyakan orang yang tahu tentang kami menganggap kami sebagai mitos, itu karena genosida terhadap shimu kerap kali terjadi yang menyebabkan populasi shimu menurun dan tak banyak orang yang tahu tentang kehidupan kami. Segala usaha untuk berdamai tak pernah diindahkan dan hanya berujung predasi untuk shimu.


   Dulu saya dan Ibu saya pernah menjadi korban dari manhunt yang dilakukan manusia. Dari pengalaman itu dan kehangatan dari ibu yang masih saya rasakan, saya memiliki mimpi untuk membuat derajat para shimu setara dengan sapiens. Saya memiliki mimpi untuk menghentikan kegilaan ini. Berkat ibu saya yang dulu selalu sabar mengajari saya tentang kebaikan dengan sesama, kesabaran, kemampuan berpikir sebelum bertindak, dan segala moralitas yang seharusnya dimiliki makhluk Tuhan. Semua ini saya impikan karena ibu.


   Saya bernama Sovy, dulu saya hidup berdua bersama ibu saya di kastil samurai yang terbengkalai di Negara Jepang. Sehari-hari saya hidup di kastil tanpa mengetahui apa itu dunia luar, hanya ibu satu-satunya orang yang dengan kesabaran dan kehangatannya mengajarkan saya tentang hal-hal yang saya penasarankan. Meskipun secara fisik saya terbelenggu di sini, namun secara mental dan hati saya tidak pernah satu pun merasa tersiksa karena nya, semua ini berkat ibu. Bagi saya, ibu merupakan ‘buku berjalan’ yang sebenarnya. Karena, berkat beliau saya bisa belajar dan mendapatkan informasi tentang dunia luar.


   Suatu hari saat saya sedang mengamati sekitar, saya mendapati anak berjenis Homo sapiens sedang tenggelam di danau, tanpa basa-basi saya langsung membantunya. Di sinilah awal mula bencana itu terjadi.


   Di bawah cahaya purnama, obor para manusia itu terlihat dari kejauhan, sebuah pemandangan tak terlupakan bagi saya yang hanya bisa tertegun saat itu. Ibu langsung menggendong saya untuk pergi dari situ. Saya bertanya-tanya "Sekarang sedang musim dingin, kenapa harus pergi bu? Kan saya kedinginan" Saya tahu ibu juga sedang panik saat itu, namun ia tetap berusaha untuk menjawab dengan sabar seraya meyakinkan saya "Anakku Sovy, percaya lah, kau tidak akan merasakan kedinginan jika bersama ibu. Rasa dingin ini tidak ada apa-apanya dibanding harus ditangkap oleh mereka. Percayalah nak, ibu akan selalu di sini untuk mu" dengan tegar ibu berkata demikian untuk meyakinkan saya.


   Kabar tentang kami tersebar di seluruh penjuru Jepang, hal itu membuat seluruh masyarakat dalam perburuan untuk kami berdua. Sepanjang pelarian kami, ibu selalu menggendongku dan memelukku agar saya tetap hangat. Memberikan saya pemahaman arti kasih seorang ibu yang sepanjang masa. Ibu selalu berusaha tersenyum dan memberikan saya motivasi, saya selalu yakin dan percaya padanya karena tidak ada seseorang yang menginginkan saya hidup selain ibu.  


   Sialnya pada suatu malam, ibu tertembak oleh peluru pemburu, darah mengalir darinya, menghiasi pelarian kami pada malam itu dengan kengerian dan aroma darah yang sangat menyengat. Saya meminta ibu untuk berhenti agar saya bisa merawat lukanya, tapi ibu bersikukuh tidak menyerah hingga menemukan shelter.


   Saat kami beristirahat di samping api unggun. Ibu memeluk saya dengan sangat erat, elusan lembutnya membuat saya tegar kembali terlepas dari tragedi yang terjadi beberapa saat yang lalu. Tangan ibu nampak menghitam, aku tak tahu itu kenapa. Meski menyeramkan, saya tetap menggenggam tangannya seraya mengobati lukanya. Dan pada malam itu ibu berkata pada saya "Sovy, ibu percaya pada kamu. Mungkin ini egois tapi bisakah kau menggendong dan membawa ibu ke negara seberang? Di sana ada dokter shimu terkenal yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita shimu, ibu yakin kau pasti kuat. Oleh karenanya, ibu minta tolong bisakah kau membawa ibu ke seluruh perjalanan mu nanti?" Saya menganggukkan keinginan ibu karena bagi saya, yang utama adalah ibu saya.  


   Sepanjang perjalanan meskipun sambil menggendong dirinya, aku tidak pernah merasa lelah maupun keberatan, kehangatan dari pelukannya dan dirinya yang selalu menyemangati ku di setiap langkahku membuat ku ingin terus maju menerjang badai dan rintangan. Senyuman manisnya, kasihnya, dan sentuhannya bagaikan bahan bakar bagiku. Saya berhasil menyelinap masuk ke kapal pedagang yang hendak ke negara tetangga bersama ibu, dan perjalanan kami hampir menuju keberhasilan. "Sovy.. kau sungguh hebat, pasti kau merasa terbebani karena aku?" Saya menjawab "Tidak lah bu, kau adalah segala bagiku." ibu menimpal "Kalau begitu.. izinkan ibu beristirahat ya? Ibu mengantuk sekali" saya pun meyakinkan ibu bahwa saya akan melindunginya sepanjang perjalanan. Dirinya tampak sangat cantik pada malam itu.


   Ketika sampai di tempat dokter itu, semua shimu di sana tampak kaget melihat ku, mereka seperti sedang melihat hantu dan hal menyeramkan lainnya. Baru beberapa langkah saya pun terjatuh lemas tak sadarkan diri karena mengetahui saya telah tiba di tempat yang aman bagi ibu.


   Keesokan nya saat saya tersadar di atas ranjang dan penuh akan kekhawatiran akan ibu saya, sang dokter datang menghampiri saya. "Kau adalah shimu dari Jepang yang terkenal itu ya?" Ia berkata seraya menepuk bahu saya perlahan, saya pun mengiyakannya dan bertanya "Ibu saya lebih membutuhkan mu dari pada ku, tolong sembuhkan dia" dan dokter itu pun berkata hal yang hampir tak masuk akal bagi saya "Nak... sayangnya ilmu kedokteran tidak mampu menyembuhkan penyakit ini. Yaitu, kematian. Ibu mu telah meninggal sejak amat lama, kemungkinan nya sudah satu bulan dia meninggal. Sedari kau masih di Jepang. " Aku pun tidak percaya "Tidak mungkin! Baru tadi malam dia bercengkrama dengan ku!" Dokter itu pun menghela nafas panjang dan melanjutkan ceritanya "Nak.. nampaknya ibu mu sangat sayang pada mu.. yang dulu kau lihat hanyalah halusinasi mu saja. Halusinasi akan ibu mu yang membuat kau terdorong untuk ini dan terus melanjutkan perjalanan, semua kelelahan dan tekanan yang kau rasakan telah merusak mental mu dan membuat kau gila, namun dengan rasa cinta dan kasih Ibu mu yang dulu ia berikan, membuat kegilaan yang kau alami menciptakan interpretasi dirinya yang membuat kau terus maju. Memang kau tidak menyadari, tapi kenangan dengan ibu mu lah yang membuat ini terjadi, selayaknya muscle memory, tapi ini bukan tentang otot." Aku pun menyadari "Jadi pada malam itu.." dan dokter pun tampak memahami akan hal yang kusadari "Ya.. ibu mu telah meninggal karena tembakkan itu. Satu-satunya yang ibu mu mau adalah kau melanjutkan hidupmu."


   Berdasarkan pengalaman dan rasa cintanya yang mendalam. I have a dream bahwa saya akan membuat shimu bisa hidup dengan tenang. Berkat ibu saya yang dengan cinta nya itu membuat saya tetap hidup, saya akan mempersembahkan untuknya senyuman para shimu yang mengetahui mereka tak lagi hidup dalam ketakutan ini. Saya memiliki mimpi.


(Maaf kalau kepanjangan)








Komentar